Maulid Nabi: Sejarah, Tanggal Perayaan dan Maknanya

Sebagai umat muslim, Anda harus mengetahui tentang sejarah Maulid Nabi dengan jelas sebagai perayaan hari ulang tahun Rasulullah SAW. 

Umat muslim memiliki beberapa perayaan hari besar, salah satunya ialah Maulid Nabi. Tanggal perayaan Maulid nabi jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal setiap tahunnya. 

Pada hakikatnya, perayaan ini merupakan sebuah perayaan untuk memberikan penghormatan dan rasa bahagia untuk Nabi Muhammad SAW. 

Apakah Anda sudah mengetahui pengertian, sejarah hingga makna dari perayaan ini?

Berikut ini adalah beberapa hal penting yang perlu Anda ketahui tentang perayaan Maulid Nabi. 

Peristiwa Kelahiran Nabi Muhammad

Maulid Nabi, adalah perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Maulid Nabi tanggal berapa?

Perayaan ini berlangsung pada 12 Rabiul Awal pada tahun saat Nabi Muhammad Lahir. 

Momen kelahiran Nabi Muhammad merupakan momen yang sangat penting bagi Rasulullah sendiri dan bagi umat Islam. Allah telah mengutus Rasulullah untuk menjadi rahmat bagi dunia dan semesta.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dari surat Al Anbiya pada tahun 107 

“Dan tidaklah kami mengutus Engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”. 

Rasulullah lahir dari seorang ibu bernama Aminah dan ayah bernama Abdullah. Ayah Rasul meninggal ketika Siti Aminah mengandung Rasulullah. 

Kelahiran Rasulullah disambut bahagia oleh banyak orang, termasuk sang kakek Abdul Muthalib. Saking bahagianya, Abdul Muthalib membawa Rasulullah untuk mengelilingi Ka’bah.

Abdul Muthalib memberi nama cucunya tersebut Muhammad yang memiliki arti “orang yang terus-menerus terpuji”.

Harapan kakeknya tersebut ialah agar cucunya bisa menjadi sosok yang terpuji terwujud. Nabi Muhammad menjadi sosok penting bagi dunia dan tercatat dalam sejarah dunia. 

Beliau, juga menjadi sosok yang dijuluki Al-Amin yang berarti orang orang terpercaya. Nabi Muhammad mengajarkan banyak kebaikan bagi umat manusia dan tentunya masih menjadi sosok terpuji hingga akhir jaman.

Pengertian Maulid Nabi

Dalam buku berjudul Al Akhbar Seputar Kita yang ditulis oleh Ir. Tebyan A'mari Machalli MM dan Mirwat Word Centre, Maulid berasal dari kata Milad yang berarti hari lahir. 

Secara etimologi, Maulid Nabi adalah hari, tempat atau waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW. 

Maulid Nabi merupakan sebuah perayaan atau upacara keagamaan yang diadakan oleh umat muslim. 

Perayaan ini merupakan sebuah tradisi yang berkembang jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. 

Secara substansi, perayaan ini merupakan sebuah cara untuk mengekspresikan rasa kebahagiaan serta penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW. Umat muslim menyanjung, memuliakan dan menghormati beliau dengan cara mengikuti perilaku terpujinya. 

Sejarah Maulid Nabi di Dunia

Perayaan hari lahir Nabi Muhammad tidak dilakukan ketika beliau masih hidup. Lalu, kapan perayaan hari lahir Rasulullah ini pertama kali berlangsung? 

Terdapat pendapat dan teori dari beberapa kalangan mengenai penyelenggaraan sejarah singkat Maulid Nabi

Teori pertama menjelaskan bahwa perayaan Maulid Nabi pertama kali berlangsung ketika Dinasti Ubaid di Mesir berkuasa. Pada tahun 362 - 567 Hijriyah, perayaan ini merupakan salah satu jenis perayaan yang mereka rayakan. 

Selain kelahiran Nabi Muhammad SAW, merek juga memiliki hari perayaan lainnya seperti Maulid Fatimah, Maulid Ali, Maluid Husain, Maulid Hasan hingga Hari Asyura. 

Teori lainnya mengatakan bahwa Maulid Nabi bermula dari kalangan ahlus sunnah yakni Gubernur Irbil yang berada di wilayah Irak. Saat itu, perayaan Maulid Nabi mengundang ahli ilmu, ahli tasawuf, ulama dan seluruh rakyatnya. 

Dalam perayaan ini, para fakir miskin mendapatkan hadiah, hidangan hingga sedekah. 

Menurut beberapa kalangan lainnya, Maulid Nabi pertama kali terjadi pada tahun 1993 M pada zaman Shalahuddin al-Ayyubi. 

Shalahuddin saat itu menganjurkan kepada umatnya untuk melakukan perayaan Maulid Nabi. Perayaan ini memiliki tujuan untuk meningkatkan semangat jihad bagi kaum muslim. 

Ketika itu, Shalahuddin bersama umat Muslim memang sedang berada dalam fase berperang. Mereka harus berperang melawan tentara Salib. 

Namun, pendapat ini belum memiliki bukti catatan sejarah yang jelas tentang pendapat ini.

Sejarah Maulid Nabi di Indonesia

Lalu, bagaimana di Indonesia? Apakah baru ada perayaan Maulid Nabi semenjak kemerdekaan atau bahkan ketika bangsa ini masih harus berjuang melawan penjajah? 

Di Indonesia, perayaan Maulid Nabi dikenalkan dan dikembangkan oleh Wali Songo pada tahun 1404 Masehi. Wali Songo merupakan 9 tokoh yang memiliki tujuan untuk memperkenalkan dan menyebarkan agama Islam di Indonesia. 

Sekitar tahun 1404 Masehi Wali Songo melakukan perayaan Maulid Nabi sebagai salah satu langkah untuk memeluk agama Islam. 

Kehadiran Wali Songo di Pulau Jawa membuat berbagai perayaan menjadi membaur dengan kebudayaan masyarakat Jawa. Sehingga Maulid Nabi di pulau Jawa juga terkenal dengan nama Grebeg Mulud. 

Penamaan ini karena masyarakat jawa sering melakukan perayaan dengan membawa nasi pegunungan. 

Ratusan tahun sejak awal perayaan Maulid Nabi di Indonesia terlaksana, hingga kini Maulid Nabi masih menjadi perayaan besar di tanah air. 

Adapun acara untuk melakukan perayaan ini adalah dengan membaca manakib Nabi Muhammad dalam kitab Maulid Sumtud Dhurar, Maulid Barzanji dan bacaan lainnya. 

Setelah membaca manakib tersebut, maka umat muslim bisa menyantap berbagai hidangan. Salah satunya ialah nasi kebuli dan daging kambing. 

Di Indonesia sendiri dengan umat muslim terbanyak di dunia, hari kelahiran Nabi pada tanggal 12 Rabiul Awal dirayakan dengan meriah. 

Pemerintah pun telah menetapkan Maulid Nabi sebagai tanggal merah sehingga aktivitas pekerjaan dan sekolah libur. 

Tradisi Maulid Nabi di Indonesia 

Apakah perayaan Maulid Nabi hanya ada di Pulau Jawa? Tentu saja, umat muslim di seluruh Indonesia memiliki perayaan Maulid Nabi yang berbeda beda. 

Setiap daerah memiliki tradisi tersendiri untuk merayakan hari lahir Nabi Muhammad SAW. 

Berikut ini adalah beberapa tradisi Maulid Nabi yang ada di Indonesia 

1. Muludhen 

Tradisi Maulid Nabi pertama bernama Muludhen yang berlangsung di Madura, Jawa Timur. Perayaan ini berlangsung tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal yang merupakan hari kelahiran Rasulullah. 

Perayaan besar Maulid Agung berlangsung di masjid-masjid. Umat muslim berbondong bondong untuk menuju masjid demi melakukan perayaan atas lahirnya Nabi Muhammad. 

Susunan acara ialah pembacaan riwayat hidup Nabi (Barzanji) dan ceramah mengenai suri tauladan Nabi Muhammad. Tentunya kebaikan dari Rasulullah menjadi pegangan dan pedoman hidup umat muslim. 

Biasanya, para perempuan akan membawa berbagai hidangan seperti talam yang dan nasi tumpeng. Pada sekeliling tumpeng terdapat buah buahan yang telah ditusuk lidi. 

2. Grebeg Maulud 

Seperti telah Anda ketahui sebelumnya, Grebeg Maulud merupakan sebuah perayaan Maulid Nabi yang berlangsung di tanah Jawa. 

Perayaan ini sangatlah besar dan banyak warga yang turun ke jalan untuk melihat secara langsung tradisi Grebeg Maulud. 

Grebeg Maulud telah terlaksana sejak zaman nusantara tepatnya pada zaman kesultanan Mataram. 

Grebeg memiliki arti mengikuti, yakni mengikuti sultan serta petinggi lainnya keluar dari keraton untuk pergi menuju masjid. Di masjid inilah perayaan Maulid Nabi berlangsung. 

Perayaan Grebeg Maulud lengkap dengan nasi gunungan yang dibawa ke Masjid Agung dan masyarakat luas mengiringinya. 

Setelah sampai di Masjid, maka masyarakat membaca doa untuk mensyukuri kehadiran Allah SWT dan membaca Shalawat Nabi untuk memuji Rasulullah SAW. 

Kemudian gunungan ini nantinya akan dibagikan kepada masyarakat dan merupakan puncak acara. 

3. Bunga Lado 

Sumatera Barat memiliki populasi umat muslim yang sangat besar. Tentunya, daerah ini juga merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. 

Perayaan Maulid Nabi di Sumatera Barat bernama Bungo Lado yang memiliki arti secara harfiah bunga cabai. 

Bungo Lado merupakan tradisi warga Pariaman, Sumatera Barat. Adapun Bungo Lado ialah pohon berhiaskan uang sehingga juga terkenal sebagai pohon uang. 

Tradisi ini menjadi kesempatan bagi seluruh warga termasuk perantau untuk memberikan sumbangan untuk pembangunan masjid. Oleh karena itu, pada umumnya masyarakat dari beberapa desa membawa bungo lado lalu dikumpulkan. 

Jumlah uang yang terkumpul cukup besar bahkan mencapai puluhan juta rupiah dan akan dipergunakan untuk pembangunan rumah ibadah. 

Tradisi ini berlangsung setiap tahun pada kecamatan yang berbeda. 

Sumbangan ini sebagai bentuk syukur atas rezeki yang telah Allah berikan dan sebagai bentuk perayaan kelahiran Nabi Muhammad dengan cara yang baik. 

4. Panjang Jimat 

Keraton Cirebon memiliki tradisi dalam merayakan Maulid Nabi dengan melakukan Panjang Jimat. Perayaan ini sangat besar sehingga ribuan warga Cirebon menghadiri keraton untuk menghadiri perayaan ini. 

Selain merayakan Maulid Nabi di lingkungan keraton, perayaan Maulid Nabi juga terlaksana di makan Sunan Gunung Jati. 

Biasanya, umat muslim akan menghabiskan malam Maulid Nabi. 

5. Kirab Ampyang

Tradisi Maulid Nabi selanjutnya Kirab Ampyang yang berlangsung di daerah Kudus, Jawa Tengah. 

Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama sebagai salah satu media untuk memperkenalkan agama Islam di wilayah Kudus. Awalnya, Ratu Kalinyamat dan suaminya Sultan Hadirin yang melakukan tradisi ini. 

Rangkaian acara ini ialah menyajikan makanan lalu menghiasinya dengan ampang (nasi dan kerupuk). Kemudian makanan ini diarak untuk menuju Masjid Wali At- Taqwa. 

Terdapat berbagai acara hiburan seperti kesenian yang menggambarkan tentang sejarah pendirian masjid Wali At-Taqwa. 

Kemudian makanan ini akan dibagikan kepada masyarakat sekitar dan menjadi berkah untuk orang banyak. 

6. Walima 

Dari tanah Sulawesi tepatnya di Gorontalo, masyarakat setempat merayakan hari lahir nabi dengan cukup meriah. Walima merupakan tradisi yang sudah berlangsung semenjak kerajaan-kerajaan Islam masih bertumbuh di daerah ini. 

Walima pertama kali berlangsung pada abad ke 17 saat Gorontalo mulai mengenal agama Islam. Sampai saat ini, tradisi Walima masih berlangsung di setiap masjid yang berada di Gorontalo. 

Umat muslim menyediakan kue kue tradisional yang kemudian disusun secara indah. Kemudian kue ini diarak mengelilingi kota dan menarik perhatian masyarakat sekitar. 

Karena sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu, maka masyarakat setempat sudah tahu kapan perayaan ini akan mulai. 

Ketika sudah hari perayaan, maka ribuan warga sudah bersiap untuk berebut makanan dan kue. Karena hal ini merupakan berkah dan makanan tersebut sudah didoakan dengan baik. 

7. Ngalungsur Pusaka 

Di daerah Garut, terdapat perayaan Maulid Nabi yakni upacara Ngalungsur yang dilakukan setiap tahun. 

Ngalungsur merupakan sebuah tradisi  untuk membersihkan barang barang pusaka peninggalan Sunan Rohmat. Pembersihan barang barang ini ialah untuk menjaga kualitas barang agar tidak mudah berkarat. 

Adapun penjagaan barang-barang ini sebagai bukti bahwa Sunan Rohmat selama hidupnya memperjuangkan agama Islam sepenuh hatinya. 

Kemudian, barang-barang miliknya tersebut akan diperlihatkan pada pelaksanaan Ngalungsur Pusaka. 

Berbagai tradisi yang ada di Indonesia untuk merayakan Maulid Nabi, semata mata sebagai bentuk rasa bahagia dan syukur. 

Makna Maulid Nabi

Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW tentu saja memiliki makna yang baik untuk umat Islam. Salah satunya ialah sebagai bentuk penghormatan atas apa yang telah Nabi Muhammad SAW lakukan untuk umatnya. 

Perayaan ini tidak hanya dilakukan di Indonesia saja, dalam bangsa Arab menurut catatan Ahmad Tsauri dalam sejarah Maulid Nabi, perayaan hari lahir nabi telah dimulai sejak tahun kedua hijriah. 

Tradisi perayaan Maulid Nabi di seluruh dunia juga bisa menjadi momentum untuk menyatukan dan meningkatkan kembali gairah keislaman bagi umat muslim. 

Adapun makna dan nilai yang bisa umat muslim dapatkan dari perayaan Maulid Nabi ialah sebagai berikut 

1. Nilai Spiritual

Dengan adanya Maulid Nabi umat muslim bisa menumbuhkan kembali rasa cinta kepada Rasulullah. Berbagai perayaan yang berlangsung merupakan bentuk rasa cinta sekaligus penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. 

Nabi Muhammad merupakan sosok yang membawa rahmat bagi seluruh Alam. Rasa gembira yang dirasakan Abu Jahal atas kelahiran Rasulullah saja dapat mengurangi siksa api neraka yang ia rasakan pada setiap hari senin. 

Apalagi, apabila kita umat muslim yang beriman juga merasakan kebahagiaan atas kelahiran Rasulullah. 

Sebagai umat muslim, kita harus mengucapkan Shalawat kepada Rasulullah sebagai bentuk pujian. 

Dalam surat Al -AHzab ayat 56, Allah SWT dan para malaikat bahkan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. 

2. Nilai Moral 

Nilai selanjutnya dari Maulid Nabi ialah nilai moral dimana umat muslim harus mengikuti berbagai hal baik yang Nabi Muhammad lakukan. 

Dalam kehidupan sehari hari, hendaknya melakukan berbagai hal dengan sifat terpuji. 

Ketika perayaan Maulid Nabi, tentu saja terdapat ceramah yang mengutarakan tentang kebaikan Nabi Muhammad SAW. 

Penyampaian kisah suri tauladan Rasulullah dapat membuat kita mengingat untuk hidup dengan sebaik baiknya. 

3. Nilai Sosial 

Hampir seluruh perayaan Maulid Nabi menyiapkan hidangan untuk diberikan kepada masyarakat sekitar. 

Bagi masyarakat sekitar yang membutuhkan, tentu saja hal ini menjadi rahmat yang tak ternilai. 

Dalam surat Al - Insan ayat 8 - 9, mengajak umat muslim untuk peduli terhadap saudara sesama muslin dan manusia lainnya. Dengan memiliki nilai sosial yang tinggi, tentu saja akan membantu banyak orang.

4. Persatuan 

Berkat adanya perayaan ini, maka seluruh umat muslim berkumpul untuk bersama sama merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. 

Umat muslim melantunkan shalawat bersama sama dan berdzikir untuk memuji Nabi Muhammad SAW. 

Dengan berkumpul bersama dan melakukan hal yang mulia dapat meningkatkan persatuan umat muslim. 

Rasa persatuan ini akan membantu sesama umat muslim untuk saling tolong menolong apabila salah satu membutuhkan bantuan. 

Nabi Muhammad sebagai sosok yang teladan telah mengajarkan umat manusia untuk hidup dengan baik. Memiliki iman dan menuruti semua kewajiban yang telah Allah tetapkan. 

Sebagai rasa syukur umat muslim karena Nabi Muhammad telah lahir, maka perayaan Maulid Nabi terus dilakukan. 

Dari ratusan tahun yang lalu hingga saat ini, berbagai tradisi perayaan Maulid Nabi tetap berlangsung. Bahkan setiap daerah di Indonesia memiliki perayaan sendiri yang berbeda beda. 

Namun, semuanya memiliki tujuan yang sama yakni untuk mengungkapkan rasa bahagia atas kelahiran Rasulullah. Dengan melakukan berbagai acara, umat muslim mengirimkan Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. 

Dalam Maulid Nabi, tidak hanya perayaan yang terjadi. Namun juga berbagai nilai dan makna harus bisa umat muslim resapi agar bisa hidup lebih baik dan menjadikan Rasulullah sebagai pedoman berperilaku. 

Bagaimana, kini Anda sudah mengetahui berbagai hal mengenai Maulid Nabi, bukan? Tunjukkan rasa cinta kepada Rasulullah dengan hidup baik dan mengikuti ajaran agama.

0 Response to "Maulid Nabi: Sejarah, Tanggal Perayaan dan Maknanya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel