Pembelajaran Berdiferensiasi : Pengertian, Strategi dan Implementasi

Menurut Ki Hajar Dewantara (2009) “ Pendidikan dan Pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”.

Ki Hajar Dewantara juga menjelaskan bahwa tujuan Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Filosofi utama dari KHD menekankan pada pemusatan orientasi pendidikan pada murid. Salah satu nilai yang harus dimiliki oleh seorang guru penggerak agar dapat menjalankan perannya dengan maksimal adalah keberpihakan pada murid.

Sebagai guru penggerak, mengutamakan keberpihakan pada murid adalah pedoman perilaku yang utama. Berpihak pada murid berarti seorang guru penggerak selalu bergerak dengan mengutamakan kepentingan perkembangan murid sebagai acuan utama. “Apa yang murid butuhkan?”,  “Apa yang bisa saya lakukan agar proses belajar menjadi lebih baik?”.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus muncul agar pembelajaran yang menyenangkan bagi murid terwujud dan mereka menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Namun kenyataannya dilapangan sering kali sebagai pendidik kita melupakan apa yang menjadi kebutuhan murid.

Secara tidak sengaja terkadang kita cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri. Padahal setiap anak memiliki profil belajar tersendiri

Setiap murid dikelas  memiliki karakteristik yang berbeda-beda satu sama lain. Oleh sebab itu, pendidik  selalu dihadapkan pada keberagaman yang bervariasi. Mulai dari potensi, minat, bakat, gaya belajar, kekuatan yang dimiliki siswa hingga kegiatan yang disukai (Kelompok atau individu).

Keberagaman yang ada pada siswa menjadi tantangan tersendiri bagi seorang pendidik. Tentu saja hal ini membuat pendidik  kerap kali harus  melakukan berbagai usaha dilakukan untuk memastikan setiap siswa dikelas sukses dalam proses pembelajarannya.

Keterampilan pendidik dalam mengelola kebutuhan belajar murid dikelas sangatlah diperlukan agar pendidik dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar. Salah satunya adalah dengan melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi.

Menurut Tomlison (2001:45), Pembelajaran Berdiferensiasi  adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran dikelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran berdiferensiasi bukan berarti guru harus mengajar 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid.

Artikel lainnya :

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (Common Sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid yang terkait dengan  tujuan pembelajaran, tanggapan/respon guru terhadap kebutuhan belajar murid, lingkungan belajar yang mengundang murid untuk belajar, manajemen kelas yang efektif serta penilaian berkelanjutan.

Kebutuhan belajar murid dikategorikan dalam 3 aspek yaitu kesiapan belajar, minat murid dan profil belajar murid.

  1. Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Kesiapan belajar murid berisi informasi tentang apakah pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki murid  saat ini sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan. Informasi ini digunakan untuk mengidentifikasi dan memetakan kebutuhan belajar murid yang bertujuan untuk memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran.
  2. Minat murid merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan respon terarah kepada suati situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri.  Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Itulah sebabnya pembelajaran berbasis minat ini  tidak hanya dapat menarik dan memperluas minat murid yang sudah ada, akan tetapi juga dapat membantu murid dalam menemukan minat baru.
  3. Profil belajar murid mengacu pada cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar. Dengan mengidentifikasi dan memetakan kebutuhan belajar berdasarkan profil belajar murid, maka murid mendapatkan kesempatan untuk belajar secara natural dan efisien. Ada beberapa faktor terkait profil belajar murid yaitu preferensi terhadap lingkungan belajar, pengaruh budaya, preferensi gaya belajar (auditori/visual/kinestetik) serta preferensi berdasrakan kecerdasan majemuk.

Pembelajaran berdiferensiasi mengakomodasi semua perbedaan murid, terbuka untuk semua dan memberikan kebutuhan yang diperlukan oleh setiap individu.

Ada 3 strategi dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.

Diferensiasi konten terkait dengan apa yang diajarkan kepada murid dengan mempertimbangkan pemetaan kebutuhan murid.

Diferensiasi proses mengacu pada bagaimana murid memaknai atau memahami apa informasi atau materi yang dipelajari melalui cara kegiatan berjenjang (murid bekerja membangun pemahaman yang sama tetapi dengan dukungan, tantangan dan kompleksitas yang berbeda), menyediakan pertanyaan pemandu melalui sudut-sudut minat, membuat agenda individual untuk murid, memfasilitasi lama waktu untuk penyelesaian tugas murid, mengembangkan kegiatan yang mengakomodasi gaya belajar visual,auditori dan kinestetik serta menggunakan pengelompokan sesuai kesiapan, kemampuan dan minat murid.

Diferensiasi produk  mencerminkan pemahaman murid terkait tujuan pembelajaran yang diharapkan melalui hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang ditunjukkan kepada guru dalam wujud karangan, tukisan, presentasi, rekaman, video, diagram, dan sebagainya.

Diferensiasi produk meliputi 2 hal yaitu memberikan tantangan atau keragaman dan memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan.

Untuk mendukung pembelajaran berdiferensiasi, maka guru harus menciptakan lingkungan  yang dibangun dengan komunitas belajar (Learning Community) yaitu komunitas yang semua anggotanya adalah pembelajar.

Komunitas belajar yang efektif mendukung pembelajaran diferensiasi adalah sebagai berikut :

  1. Setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut.
  2. Setiap orang dalam kelas akan saling menghargai.
  3. Murid akan merasa aman secara fisik dan psikis.
  4. Ada harapan bagi pertumbuhan (membantu setiap murid tumbuh semaksimal mungkin sesuai kemampuannya).
  5. Guru mengajar untuk mencapai kesuksesan 
  6. Ada keadilan dalam bentuk nyata (memastikan semua murid mendapatkan apa yang dia butuhkan untuk tumbuh dan sukses).
  7. Guru dan murid berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan bersama.

Dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi, proses penilaian memegang peranan yang sangat penting. Guru diharapkan memiliki pemahaman yang terus berkembang secara terus menerus tentang kemajuan akademik murid-murid agar dapat merencanakan pembelajaran sesuai dengan kemajuan tersebut.

Melalui penilaian, guru mengetahu dimana posisi murid saat akan belajar dan mengaitkannya dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan, Penilaian berfungsi sebagai sebuah kompas yang mengarahkan dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi.

Tomlison & Moon (2013) mengatakan bahwa penilaian adalah proses mengunpulkan, mensintesis, dan menafsirkan informasi dikelas untuk tujuan membantu pengambilan keputusan guru. Hal ini mencakup berbagai informasi yang membantu guru untuk memahami murid mereka, memantau proses belajar mengajar, membangun komunitas kelas yang efektif.

Di dalam kelas , ada 3 perspektif penilaian yakni : 

  1. Assesment for learning – Penilaian dilakukan selama proses pembelajaran/ penilaian berkelanjutan (on-going assessment). Berfungsi sebagai penilaian formatif. 
  2. Assesment of Learning – Penilaian setelah proses pembelajaran /Penilaian sumatif 
  3. Assessment as Learning – Penilaian sebagai proses belajar dan meibatkan murid secara aktif dalam kegiatan penilaian tersebut. Berfungsi sebagai penilaian formatif.

Penilaian formatif memegang peranan yang  sangat penting dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi karena bersifat memonitor proses pembelajaran, dan dilakukan secara berkelanjutan serta konsisten, sehingga akan membantu guru untuk memantau pengertahuan, pemahaman, dan keterampilan murid yang berkembang terkait dengan topik atau materi yang sedang dipelajari.

Hasil dari penilaian ini akan menjadi sumber untuk mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar murid, sehingga melalui proses inilah guru dapat mengetahui bagaimana ia dapat melanjutkan proses pengajaran dan memaksimalkan peluang bagi tercapainya pertumbuhan dan  kesuksesan murid dalam materi atau topic tersebut.

Setelah mempelajari modul 2.1 mengenai “ Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi” saya tergerak untuk mengimplementasikan pemahaman saya terkait materi pada modul ini dengan merancang rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdiferensiasi pada materi “ Sel Volta” dikelas XII MIA pada KD 3.4 menganalisa proses yang terjadi dalam sel volta dan menjelaskan kegunaannya dan KD 4.4 Merancang sel volta dengan menggunakan bahan sekitar.

Pada RPP ini saya melakukan strategi diferensiasi proses dengan merencanakan serangkaian kegiatan yang mengakomodir gaya belajar siswa auditori (kegiatan mendengarkan rekaman suara),visual ( pengamatan melalui tayangan video dan LKPD yang dilengkapi gambar ) dan kinestetik (kegiatan Praktik merancang PLBS dengan menggunakan prinsip kerja sel volta).

Selain itu saya juga mengimplementasikan strategi diferensiasi produk dengan membuat tugas penyajian laporan kerja dalam bentuk video, rekaman/voice note, infografis, Ms word atau PPT. Semoga rangkaian kegiatan yang sudah direncanakan ini dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dikelas yang saya ampu.

Ditulis Oleh : CGP Suhaila Ulfah, S.Pd
Angkatan 3

0 Response to "Pembelajaran Berdiferensiasi : Pengertian, Strategi dan Implementasi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel